Puisi Kamus Kecil oleh Joko Pinurbo

Joko Pinurbo (lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; umur 56 tahun) adalah salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta. Kegemarannya mengarang puisi ditekuninya sejak di Sekolah Menengah Atas.

Puisi Kamus Kecil oleh Joko Pinurbo

Atas pencapaiannya, Jokpin telah memperoleh berbagai penghargaan: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), South East Asian (SEA) Write Award (2014).

Penyair yang bermukim di Yogyakarta ini sering diundang ke berbagai pertemuan dan festival sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin. Sejumlah puisinya juga telah dimusikalilasi antara lain oleh Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan.

saya dibesarkan oleh bahasa indonesia yang pintar dan lucu,
walau kadang rumit dan membingungkan.
yang mengajari saya cara mengarang ilmu, sehingga saya tahu
bahwa sumber segala kisah adalah kasih,
bahwa ingin berawal dari angan,
bahwa ibu tak pernah kehilangan iba,
bahwa segala yang baik akan berbiak,
bahwa orang ramah tidak mudah marah,
bahwa untuk menjadi gagah, kau harus menjadi gigih,
bahwa seorang bintang harus tahan banting,
bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan,
bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira,
sedangkan pemulung tidak pelnah melasa gembila,
bahwa orang putus asa suka memanggil asu,
bahwa lidah memang pandai berdalih,
bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa,
bahwa amin yang terbuat dari iman, menjadikan kau merasa aman.
bahasa indonesiaku yang gundah, membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu,
malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat,
dimana kau induk kalimat, dan aku anak kalimat.
ketika induk kalimat bilang pulang,
anak kalimat paham, bahwa pulang adalah masuk kedalam palung,
ruang penuh raung, segala kenang tertidur di dalam kening,
ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal
yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal.

Joko Pinurbo

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *